Jelang Ramadhan Pergi, Iman Diuji, Nariyah Jadi Saksi di Al-Ittihaad 2 Pasir Lor



KABARBERITAINDONESIA.COM

Banyumas – Suasana khidmat menyelimuti Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Kamis Kliwon malam (19/03) Jumat Manis dini hari  (20/03/2026), saat Majelis Shalawat Nariyah kembali digelar sebagai tradisi ruhani yang telah berlangsung lebih dari empat dekade sejak 1986.


Majelis yang dipimpin langsung oleh KH. M. Ali Sodikin ini dihadiri keluarga besar madrasah, mulai dari pengurus, wakil kepala, guru, tenaga tata usaha, wali santri, tokoh masyarakat, hingga simpatisan. Mereka larut dalam rangkaian ibadah yang menjadi oase spiritual di penghujung Ramadhan 1447 H.


Rangkaian acara diawali dengan nasehat dan penguatan wawasan keagamaan, dilanjutkan istighfar, tawasul, pembacaan 4.444 Shalawat Nariyah, serta doa bersama.


Momentum ini juga diiringi ikhtiar khusus menyongsong Pwlakaanaan Tasyakuran Harlah ke-40 madrasah pada 3–5 April 2026, dengan pembacaan Surah Al-Fatihah serta pengulangan lafaz “iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan),” sebanyak 21 kali sebagai wasilah mengetuk pintu langit.


Dalam arahan nasehatnya, KH. M. Ali Sodikin (Mbah Sod) menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. 


“Perbedaan atau ikhtilaf itu sunatullah sejak zaman sahabat. Namun harmoni adalah pilihan iman. Kita harus tetap guyub rukun, berpegang pada tali Allah SWT dan tidak tercerai-berai,” tegasnya mengutip pesan Al-Qur’an.


Ia juga menekankan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang.


“Orang sakit dan musafir mendapat rukhsah tidak berpuasa. Ini bukti bahwa syariat hadir memuliakan manusia, bukan membebani,” ujarnya dengan nada penuh hikmah.


Lebih lanjut, ia menjelaskan tatanan zakat dan ibadah dalam Islam.


“Yang belum mampu menjadi muzaki, maka ia berhak menjadi mustahik. Zakat sudah diatur jelas dalam Al-Qur’an. Haji pun wajib bagi yang mampu, tetapi syahadat dan sholat adalah mutlak, tidak bisa ditawar karena menjadi tiang agama,” tandasnya.


Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan keutamaan akhir Ramadhan 1447H. 


“Saat puasa disempurnakan 30 hari, kita semua masih bisa menggapai pahala dilipatgandakan. Amal sunnah bernilai wajib, dan amal wajib berlipat hingga 70 kali. Bahkan langit dan bumi seakan menangis saat Ramadhan pergi,” ungkapnya dengan nada haru.


Ia menambahkan pentingnya saling memaafkan menjelang Idul Fitri. 


“Ikrar maaf harus diucapkan dengan tulus dan bahasa yang saling dipahami. Saat 1 Syawal tiba, manusia bergembira, namun iblis menangis karena dosa-dosa diampuni dan doa-doa dikabulkan,” tegasnya.


Menutup nasehatnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk mensyukuri istiqamah yang terjaga. “Sejak puluhan tahun kita hadir di majelis ini, ini bukan sekadar rutinitas, tapi jejak cinta kepada Allah SWT. Bersyukurlah, karena dengan syukur, Allah SWT  akan menambah nikmat,” pesannya.


Dikesempatan itu Safarudin simpatisan Mdrasah dari Bantarsoka Purwokerto Barat, sangat berayukur Alhamdulillah bisa hadir dalam majelis mulia, walopun belum bisa istiqamah, semoga kedepanya bisa lebih instens hadir setiap jadwal waktu silaturrahmi majelis nariyah, "tidak ada ruginya, bahkan banyak keuntungnya semua yang bisa hadir di majelis Nariyah di Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor." Tandasnya.


Majelis ditutup dengan doa, dilanjutkan ramah tamah dan santap sahur bersama, mempererat ukhuwah dalam balutan doa, harapan, dan keberkahan, menapaki usia ke-40 madrasah yang kian bersinar dalam cahaya iman dan shalawat.


(Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama