Ki Elun dari Lereng Gunung Salak, Menjaga Napas Pencak Silat Sunda

 


KABARBERITAINDONESIA.COM

BOGOR - Kabut pagi yang turun perlahan di lereng Gunung Salak seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang pendekar bernama Ki Elun. Di wilayah pegunungan Bogor inilah, tradisi pencak silat Sunda tidak hanya diajarkan sebagai teknik bela diri, tetapi diwariskan sebagai jalan hidup. Dari lingkungan inilah Ki Elun, yang memiliki nama asli Mohamad Syahrudin, tumbuh dan mengabdikan dirinya untuk menjaga napas kebudayaan leluhur.



Bagi masyarakat sekitar, Ki Elun bukan sekadar pendekar. Ia dikenal sebagai pelestari budaya sekaligus tokoh masyarakat yang menanamkan nilai moral dan spiritual kepada generasi muda. Melalui pencak silat, ia mengajarkan tentang disiplin, kejujuran, dan keseimbangan antara kekuatan fisik dan kejernihan batin.


Keilmuan Ki Elun terbentuk dari perjalanan panjang menimba ilmu berbagai aliran legendaris pencak silat Jawa Barat. Ia meramu beragam teknik menjadi satu sistem bela diri yang utuh, mencerminkan kekayaan tradisi persilatan tanah Pasundan. Setiap gerak yang diajarkannya selalu memiliki makna, bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang memahami diri dan alam sekitar.


Salah satu ciri khas keilmuannya adalah penguasaan aliran Pamacan dan Pamonyet, teknik yang meniru gerak hewan. Pamacan (Macan) menekankan ledakan tenaga, keberanian, dan serangan berciri cakaran, sementara Pamonyet (Monyet) mengajarkan kelincahan, tipu daya, serta kecepatan membaca situasi. Dua aliran ini menjadi simbol keseimbangan antara kekuatan dan kecerdikan dalam menghadapi kehidupan.


Selain itu, Ki Elun juga mendalami aliran Madi dan Kari, yang mengandalkan kecepatan tangan, teknik kuncian, dan serangan balik yang efektif. Aliran Timbangan melengkapi keahliannya dengan konsep memanfaatkan tenaga lawan serta pengelolaan titik berat tubuh agar tetap kokoh dalam berbagai situasi.

Fondasi keilmuan Ki Elun juga bersandar pada tiga pilar utama silat Jawa Barat, yakni Cimande, Cikalong, dan Syahbandar. Cimande dikenal dengan kekuatan dan ketegasan tangkisan, Cikalong menitikberatkan pada olah rasa dan kepekaan jarak dekat, sementara Syahbandar mengajarkan pengaturan napas dan keseimbangan tubuh. Ia juga mengembangkan aliran Cikeruhan, yang kaya unsur seni dan kelenturan gerak, sering dipadukan dengan iringan musik tradisional tanpa menghilangkan efektivitasnya.


Di tangan Ki Elun, pencak silat tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia menjadikannya sarana pembentukan karakter dan identitas budaya. Anak-anak muda yang datang berlatih tidak hanya belajar jurus, tetapi juga diajarkan adab, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap leluhur.



Kemunculan sosok seperti Ki Elun dari lereng Gunung Salak menegaskan bahwa Bogor tetap menjadi salah satu basis penting pelestarian pencak silat di Jawa Barat. Di tengah arus modernisasi, ia berdiri sebagai penjaga nilai, memastikan bahwa pencak silat Sunda terus hidup, bernafas, dan diwariskan dengan martabat kepada generasi berikutnya.


(Herman jampang)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama